SDN Gandawesi II Viral! Sekolah Rusak di Samping Dapur MBG
SDN Gandawesi II mendadak menjadi sorotan publik setelah sebuah foto yang memperlihatkan perbedaan yang mencolok anatar ruang kelas yang usang dan bangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru-baru ini viral di media sosial. Dalam foto tersebut terlihat kontras mencolok. Ruang kelas sekolah tersebut tampak kusam dan rusak, dengan dinding memudar, plafon retak, serta cat mengelupas penuh coretan. Sementara itu, di sebelahnya berdiri dapur program MBG yang terlihat baru, bersih, dan jauh lebih layak.
Pemandangan ini akhirnya memicu reaksi warganet dan memunculkan pertanyaan besar, apakah prioritas pembangunan pendidikan sudah benar-benar berpihak pada kebutuhan utama murid?
Kondisi SDN Gandawesi II di Lapangan
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi yang dilansir dari Bisnis.com, sejumlah ruang kelas di SDN II Gandawesi mengalami kerusakan yang cukup parah. Dinding kusam, atap yang kurang layak, hingga bagian dalam kelas yang perlu perbaikan serius. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di tengah keterbatasan tersebut.
Kepala SDN II Gandawesi, Nina Sophia, menanggapi viralnya foto tersebut dengan tenang. Ia memilih melihat sisi positif dari situasi yang terjadi.
“Saya ambil sisi positifnya saja. Mungkin karena berdampingan dengan bangunan yang terlihat baru dan bagus, jadi perbandingannya cukup mencolok,” ujar Nina, Senin (20/4/2026).
Nina juga menegaskan bahwa pengajuan perbaikan ruang kelas sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah pada 9 Maret 2026. Artinya, kondisi ini bukan sesuatu yang baru dan tiba-tiba muncul.
SDN Gandawesi II Sudah Dipetakan Sebelum Viral
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Muhamad Umar Ma’ruf, memberikan klarifikais penting. Ia menegaskan bahwa kondisi sekolah-sekolah rusak di wilayahnya sudah dipetakan jauh sebelum kejadian ini menjadi viral.
“Seluruh sekolah sudah kita mapping. Termasuk kejadian-kejadian seperti bangunan ambruk dan kerusakan lainnya. Jadi bukan karena viral baru ditangani,” kata Umar, dilansir dari detikJabar, Senin (20/4/2026).
Ia juga menjelaskan bahw SDN Gandawesi II termasuk dalam kategori rusak berat dengan tida ruang kelas yang memerlukan penangan serius. Skala kerusakan seperti tersebut, penangananya memang harus di ajukan ke pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten. Tidak bisa serta merta menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang maksimal hanya boleh digunakan 20 persen untuk pemeliharaan.
“Kami pastikan sekolah ini menjadi prioritas. Upaya jemput bola ke pemerintah pusat terus kami lakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Majalengka,” tegasnya, dilansir dari MetroTV News, Senin (20/4/2026).
Lebih jauh, Umar mengungkapkan bahwa Disdik Majalengka secara keseluruhan telah mengusulkan 323 sekolah untuk mendapat program revitalisasi, rinciannya 221 SD, 63 SMP, dan 39 PAUD/TK. SDN Gandawesi II hanya satu dari ratusan sekolah yang mengantre perbaikan.
“Alhamdulillah kita dapat program revitalisasi sekolah serta bantuan presiden yang dialokasikan tahun 2026. Ini merupakan langkah konkret dalam peningkatan sarana pendidikan,” tambahnya.
SDN II Gandawesi Masuk Revitalisasi 2026, Ini Respon Kemendikdasmen
Setelah foto tersebut viral dan menuai sorotan publik, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akhirnya memberikan kepastian. Melalui akun Instagram resminya, Kemendikdasmen mengumumkan bahwa SDN Gandawesi II telah masuk dalam Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2026.
“SDN Gandawesi II di Majalengka, Jawa Barat, telah ditetapkan sebagai salah satu penerima program Revitalisasi Kemendikdasmen tahun ini guna meningkatkan kelayakan, kenyamanan, serta keamanan lingkungan sekolah.” tulis akun resmi Kemendikdasmen, dilansir dari detikJabar, Senin (20/4/2026).
Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, turut menyambut kabar tersebut dengan penuh syukur.
“Atas nama seluruh masyarakat Majalengka, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI melalui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah menyetujui usulan program revitalisasi ini,” ujar Bupati Eman, Sabtu (18/4/2026), dilansir dari TIMES Indonesia.
Tidak hanya SDN Gandawesi II, Kemendikdasmen juga menyebut sekolah lain yang turut masuk daftar revitalisasi, yakni SDN Boof di NTT dan SDN Limbangan 02 di Brebes sebuah langkah yang menunjukkan bahwa masalah infrastruktur sekolah rusak bukan hanya terjadi di satu wilayah, melainkan tersebar berbagai penjuru wilayah di Indonesia.
Haruskah Menunggu Viral untuk Diperbaiki?
Respons cepat pemerintah usai foto SDN Gandawesi II viral memang patut diapresiasi. Namun, kasus ini juga membuka pertanyaan yang sulit untuk diabaikan: bagaimana nasib ratusan sekolah rusak lainnya yang tidak sempat viral?
Dari data yang disampaikan Disdik Majalengka saja, ada 323 sekolah yang diusulkan untuk revitalisasi. Secara nasional, kondisi serupa dipastikan jauh lebih masif. Jika mekanisme percepatan baru berjalan ketika sebuah kasus sudah menyebar di media sosial, maka ada celah sistemik yang perlu segera dievaluasi.
Pemerataan infrastruktur pendidikan semestinya tidak bergantung pada seberapa ramai suatu kasus dibicarakan di kolom komentar media sosial. Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan ruang belajar yang layak terlepas dari apakah sekolah mereka sempat viral atau tidak.
Kasus tersebut, seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat dan memperluas program revitalisasi sekolah secara menyeluruh, Kasus SDN Gandawesi II seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat dan memperluas program revitalisasi sekolah secara menyeluruh, lebih akitf, dan berbasis data, bukan reaktif karena tekanan viral semata.
Semoga informasi ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kelayakan ruang belajar adalah hak setiap anak bangsa yang tidak perlu menunggu ciral untuk terpenuhi.
~nsm
