| |

Nilai TKA SMP 2026 Diprediksi Rendah, Literasi-Numerasi Jadi PR!

Nilai TKA SMP 2026 diperkirakan masih rendah berdasarkan hasil sementara Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar pada awal April 2026. Meski pengumuman resmi belum dirilis, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti telah memberikan gambaran awal. Ia menyebut capaian siswa SMP tidak jauh berbeda dari hasil TKA SMA tahun sebelumnya yang juga tergolong rendah, terutama pada aspek matematika, literasi, dan bahasa.

Pernyataan ini disampaikan Mu’ti dalam acara Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional bersama UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation, di Jakarta, Kamis (9/4/2026).Hasil TKA SMP 2026

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan bahwa hasil TKA SMP sementara tidak jauh berbeda dengan hasil TKA SMA. Ia menilai masih adanya ketertinggalan kemampuan matematika siswa, dan menegaskan bahwa hal tersebut harus menjadi alarm bagi negara.

“Hasilnya juga tidak jauh-jauh beda dengan yang TKA SMA. Matematikanya juga akan segitu dari 30 soal itu, nanti akan kita umumkan. Memang masalah kita masih belum terselesaikan,” kata Mu’ti dalam acara tersebut.

Sebagai gambaran, hasil TKA jenjang SMA yang digelar November 2025 mencatat angka yang memprihatinkan. Nilai rata-rata tiga mata pelajaran wajib dalam tes ini sangat rendah, Bahasa Indonesia hanya 55,38, Matematika 36,1, dan Bahasa Inggris 24,93. Jika hasil TKA SMP memang berada di kisaran yang sama, ini bukan kabar yang bisa diabaikan.

Lebih dari 4,2 juta siswa SMP di seluruh Indonesia telah menuntaskan TKA dalam empat hari terakhir. Nilainya tidak jauh berbeda dengan jenjang SMA. Hal ini menunjukkan persoalan literasi dan numerasi masih perlu segera diperbaiki.

Nilai TKA SMP 2026 dan Cerminan Hasil PISA Indonesia

Hasil TKA memperkuat temuan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Dalam laporan tersebut, sebagian besar siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD.
Hanya 25 persen siswa yang berada di atas rata-rata literasi membaca, dan 18 persen pada matematika.

Dalam laporan PISA 2022, skor matematika siswa Indonesia berada di angka 366, membaca 359, dan sains 383. Secara peringkat global, Indonesia berada di posisi bawah untuk literasi membaca (peringkat 71) dan matematika (peringkat 70).

Sejak mengikuti tes PISA pertama kali pada tahun 2000, hasil skor Indonesia selalu rendah dan berada di bawah rata-rata OECD. Temuan ini menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia cenderung stagnan. Terutama pada aspek kemampuan dasar.

Nilai TKA SMP 2026 Soroti Masalah Literasi dan Numerasi

Mu’ti menerima kenyataan pahit ini. “Kita belum pulih dari masalah terkait rendahnya pencapaian literasi dan numerasi. Kita belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan yang sangat fundamental terkait dengan kemampuan dasar yaitu membaca dan menulis,” tegasnya.

Mendikdasmen Mu’ti juga menilai kondisi ini tidak lepas dari dampak learning loss dan learning poverty yang terjadi beberapa tahun terakhir akibat pandemi.

Hasil TKA yang rendah ini sejatinya merupakan alarm keras untuk memperbaiki kebijakan pendidikan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah pemerintah sudah berinvestasi secara serius pada guru, pemerataan pendidikan, dan kurikulum berbasis kompetensi dasar?

Kemendikdasmen sendiri menegaskan bahwa rendahnya nilai ini tidak sepenuhnya dibebankan kepada siswa, mengingat TKA baru mulai diterapkan dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pun baru berjalan sekitar setahun terakhir.

Dengan data yang semakin banyak mengenai persoalan yang sama dari tahun ke tahun, sudah saatnya penguatan literasi dan numerasi diperlakukan sebagai isu yang benar-benar mendesak bukan sekadar wacana dalam dokumen kebijakan.

Mendikdasmen Mu’ti menegaskan bahwa ke depan pelaksanaan TKA akan diselaraskan dengan standar asesmen internasional seperti PISA, dan pendekatan pembelajaran diarahkan pada penguatan berpikir kritis, analitis, dan reflektif.

Hasil resmi TKA SMP 2026 dijadwalkan diumumkan setelah seluruh rangkaian ujian rampung. Namun sinyal awal sudah cukup jelas, tanpa langkah konkret dan prioritas yang serius dari pemerintah, masalah literasi dan numerasi anak Indonesia akan terus menjadi benang kusut yang sulit diurai.

Semoga informasi ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua, bahwa meningkatkan kualitas literasi dan numerasi anak bangsa adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa ditunda lebih lama lagi.

 

~nsm

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *