PKGSD-MBI Diluncurkan: Guru SD Hadapi Era Bahasa Inggris!
PKGSD-MBI resmi diluncurkan sebagai program strategis Kemendikdasmen. Program ini bertujuan menyiapkan guru SD agar siap mengajarkan Bahasa Inggris kepada murid. Program ini hadir untuk menjawab tantangan besar dalam penerapan Bahasa Inggris di tingkat SD. Selama ini, banyak sekolah masih kekurangan guru yang benar-benar terlatih mengajar Bahasa Inggris.
Peluncuran Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris atau PKGSD-MBI ini berlangsung secara daring melalui kanal YouTube resmi Kemendikdasmen, sekaligus menandai dimulainya babak baru kebijakan Bahasa Inggris di jenjang pendidikan dasar Indonesia.
Mengapa PKGSD-MBI Perlu Ada?
PKGSD-MBI lahir dari sebuah fakta yang cukup mengkhawatirkan. Sebelum program ini diluncurkan, Kemendikdasmen mencatat ada lebih dari 150 ribu SD di Indonesia. Sekitar 90 ribu di antaranya belum memiliki guru yang memiliki keahlian mengajar Bahasa Inggris, dilansir dari Kemendikdasmen.go.id, (2/4/2026).
Artinya, lebih dari separuh SD di Indonesia belum siap menjalankan kebijakan Bahasa Inggris wajib. Mata pelajaran Bahasa Inggris akan dijadwalkan berlaku mulai tahun ajaran 2027/2028 untuk murid kelas 3 SD.
Kondisi ini mendorong Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk merancang program pelatihan yang terstruktur, berjenjang, dan berorientasi pada hasil nyata di kelas, bukan sekadar sertifikat kelulusan pelatihan.
PKGSD-MBI dirancang sebagai program multitahun yang akan berjalan dari 2025 hingga 2029. Dirjen GTK Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa program ini akan dilaksanakan secara bertahap untuk menjangkau seluruh guru yang ditargetkan.
“Pada tahap pertama ini kami laporkan ada sebanyak 5.777 guru yang menjadi peserta. Pelatihan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun ke depan. Targetnya mencapai 90.447 guru.” kata Nunuk dalam peluncuran program PKGSD-MBI, dilansir dari ANTARA, Jumat (8/5/2026).
Para peserta tahap pertama berasal dari 177 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Untuk tahun 2026 ini, pemerintah menargetkan sebanyak 10.000 guru SD akan menyelesaikan pelatihan melalui program PKGSD-MBI.
Metode pelatihannya dirancang secara kombinasi, menggabungkan pembelajaran daring, luring, serta pendampingan dari komunitas belajar. Pendekatan ini dipilih agar guru tidak hanya mendapatkan materi secara teori. Guru diharapkan juga mengalami proses belajar yang langsung dan kontekstual dengan kebutuhan mengajar di lapangan.
Target Kompetensi: CEFR Level B2
PKGSD-MBI tidak sekadar melatih guru untuk bisa menyampaikan kosakata dasar. Program ini menargetkan para peserta mencapai kompetensi Bahasa Inggris pada level B2 dalam kerangka CEFR (Common European Framework of Reference for Languages), dilansir dari Kemendikdasmen.go.id, (2/4/2026).
Level B2 CEFR yang berarti guru mampu memahami ide-ide kompleks dalam bahasa Inggris. Guru juga diharpkan mampu berkomunikasi secara spontan dan lancar dengan penutur asli, serta mampu menjelaskan suatu topik secara jelas, termasuk dalam konteks pembelajaran di kelas.
Nunuk menekankan bahwa pelatihan ini bertujuan melahirkan guru yang mampu mengajar Bahasa Inggris dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Pembelajaran diharapkan tidak terasa menakutkan bagi siswa SD.
“Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib merupakan upaya kita untuk membekali murid dengan kemampuan dasar berbahasa Inggris. Oleh karena itu, pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan guru agar dapat memberikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan mudah dan menyenangkan,” ujar Nunuk, dilansir dari Kemendikdasmen.go.id, (2/42026).
Penerapan PKGSD-MBI pada Guru di Tasikmalaya
Dampak nyata PKGSD-MBI sudah mulai terasa di beberapa daerah yang lebih dulu mengikuti program ini. Di Kabupaten Tasikmalaya, sejumlah guru SD yang telah menyelesaikan pelatihan PKGSD-MBI Batch sebelumnya mengaku mengalami perubahan signifikan dalam kepercayaan diri mereka.
Sebelum mengikuti program ini, banyak guru merasa ragu untuk mengajar Bahasa Inggris karena keterbatasan kemampuan dan minimnya pengalaman. Setelah mengikuti pelatihan, para guru mengaku lebih percaya diri saat mengajar. Mereka juga mulai berani berbicara dalam Bahasa Inggris di depan murid dan mencoba metode pembelajaran yang lebih interaktif.
Pengalaman dari Tasikmalaya ini menjadi bukti awal bahwa pendekatan PKGSD-MBI yang menggabungkan teori dan praktik nyata di komunitas belajar memiliki dampak yang terukur, bukan hanya di atas kertas.
Implementasi Bertahap Mulai Tahun Ajaran 2027/2028
Setelah menyelesaikan pelatihan, guru-guru peserta PKGSD-MBI tidak langsung dibiarkan berjalan sendiri. Kemendikdasmen telah berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten dan kota untuk memastikan setiap guru yang sudah terlatih mendapatkan penugasan baru sebagai pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas 3 SD mulai tahun ajaran 2027/2028.
Pada tahun ajaran tersebut, Kemendikdasmen menargetkan 58.896 SD mulai menerapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib. Kebijakan ini berlaku untuk murid kelas 3 SD di seluruh Indonesia, dilansir dari ANTARA, Jumat (8/5/2026).
“Karena ini nanti diterapkan di kelas 3 SD, jadi harapannya untuk piloting ini, bapak ibu guru nanti akan kami petakan dengan dinas pendidikan untuk mengajar di kelas 3 SD ya,” kata Nunuk.
PKGSD-MBI merupakan investasi jangka panjang di bidang pendidikan. Tapi jelas untuk menyiapkan generasi anak-anak Indonesia agar akrab dengan Bahasa Inggris sejak usia dini, melalui guru yang betul-betul siap mengajar, bukan sekadar hadir di kelas.
Deimikian informasi mengenai program PKGSD-MBI, semoga dapat mendorong lebih banyak guru SD untuk ikut serta dalam pelatihan dan bersama-sama mewujudkan generasi Indonesia yang lebih siap bersaing di era global.
~nsm
