Dapur MBG di Kampus: Inovasi atau Beban Baru?
Dapur MBG di kampus tiba-tiba menjadi topik yang ramai diperbincangkan di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Gagasan ini bermula dari pernyataan Kepala BGN, Dadan Hindayana.
Ia mendorong konsep “satu kampus satu dapur” melalui SPPG di perguruan tinggi.
Namun alih-alih disambut bulat, wacana ini justru memantik berbagai respon. Beberapa menyambut dengan antusias, ada yang keberatan, bahkan ada pula yang dengan tegas menolak.
Dapur MBG di Kampus sebagai Laboratorium Berbasis Pengetahuan
Gagasan dapur MBG di kampus ini dinilai bukan sekadar soal memasak. Dadan Hindayana menekankan bahwa keterlibatan perguruan tinggi merupakan langkah yang logis dan strategis. Kampus dinilai memiliki kapasitas sebagai penyedia solusi berbasis ilmu pengetahuan.
“Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Makassar, dilansir dari Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Pandangan ini mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, menilai kehadiran SPPG di kampus mencerminkan model ideal tata kelola program publik berbasis ilmu pengetahuan. Ia menyebut SPPG Universitas Hasanuddin sebagai integrasi vertikal antara pusat produksi pengetahuan dan ruang aplikasinya.
“Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model seperti ini memutus mata rantai tersebut,” paparnya, dilansir dari ANTARA, Senin (4/5/2026).
Unhas Jadi Pelopor, Rektor Siap Kampus Jadikan Pusat Unggulan Dapur MBG

Semangat itu terwujud nyata di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Unhas menjadi kampus pertama yang membangun SPPG dan meresmikannya pada 28 April 2026. Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menyatakan bahwa MBG bukan program satu fakultas, melainkan agenda lintas disiplin seluruh kampus.
“MBG adalah program yang cukup besar, sayang sekali jika kampus hanya menjadi penonton,” katanya dalam kegiatan BGN Goes to Campus di Unhas, dilansir dari laman resmi BGN, Selasa (5/5/2026).
Unhas menargetkan menjadi pusat unggulan MBG di Indonesia Timur. Kampus ini ingin memenuhi bahan baku dari lingkungan sendiri.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, turut mengapresiasi langkah Unhas. Ia juga mendorong kampus lain agar tidak hanya menjadi penonton dalam program ini.
BEM UI Menolak Tegas Soal Prioritas yang Salah Sasaran
Di sisi seberang, suara penolakan datang keras dari mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) secara terbuka menyatakan menolak rencana pembangunan SPPG di kampus.Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan, menegaskan bahwa mereka tidak menolak program MBG sepenuhnya. Namun, mereka menilai kebijakan ini tidak tepat sasaran.

“BEM se-UI menolak pendirian SPPG di kampus. Mereka menilai kebijakan ini salah sasaran. Biaya pendidikan masih mahal, kesejahteraan dosen rendah, dan fasilitas kampus belum memadai,” tegas Athof, sapaan akrabnya, dilansir dari Tempo, Senin (4/5/2026).
Ia melanjutkan, jika pengambil kebijakan benar-benar menyadari kebutuhan utama kampus, yang seharusnya didorong adalah peningkatan dana riset dan kesejahteraan dosen bukan pembangunan dapur.
“Masalahnya, jika tidak tepat sasaran, yang dikorbankan adalah fasilitas kampus yang tidak diperbaiki, biaya pendidikan yang makin tinggi, serta kesejahteraan dosen yang tetap terabaikan,” ujarnya.
Senada, ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta turun ke jalan pada hari yang sama, berunjuk rasa di depan kantor Kemdiktisaintek. Mereka membawa poster berisi tuntutan senada, di antaranya bertuliskan “Bayar SPPG mampu, bayar guru tidak mampu” dan “Pendidikan dirampas, MBG oke gas!”, dilansir dari Tempo, Senin (4/5/2026).
Tanggapan Rektor UI Dapur MBG di Kampus
Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, mengambil posisi yang lebih berhati-hati. Ia tidak menolak secara frontal, tetapi mengingatkan bahwa fungsi utama perguruan tinggi tidak boleh bergeser.
“Nah seandainya nanti ada MBG pun, SPPG ya, ini perlu dikaji terlebih dahulu ya. Tentunya bukan di universitasnya, tetapi di unit usahanya yang lebih relevan,” kata Heri di Kampus UI, Depok, dilansir dari Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Ia menegaskan bahwa fungsi utama kampus adalah pendidikan dan riset. Bukan mengelola dapur. Jika ada keterlibatan dalam MBG, semestinya dilakukan melalui unit usaha kampus yang memang sudah memiliki fasilitas relevan, seperti katering hotel milik kampus.
BGN Tegaskan Tidak Ada Paksaan
Merespons gelombang penolakan, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi kampus untuk membangun SPPG. Ia meminta agar istilah “penolakan” tidak digunakan secara berlebihan.
“Bukan penolakan bahasanya jangan vulgar. Mereka hanya mengatakan kami enggak mau membangun kan enggak apa-apa. Kalau ada yang mau membangun juga syukur ya kan ini kan kesadaran masing-masing, kan enggak wajib,” ujar Nanik usai kegiatan BGN Goes to Campus di Unhas, dilansir dari IDN Times, Selasa (5/5/2026).
Perdebatan soal dapur MBG di kampus sesungguhnya bukan sekadar soal setuju atau tidak. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar, kira-kira apa peran ideal perguruan tinggi dalam mendukung program nasional tanpa mengorbankan fungsi utamanya?
Jika dikelola dengan benar, SPPG di kampus memang berpotensi menjadi laboratorium hidup yang mempertemukan riset dan praktik. Namun tanpa kajian matang, kampus berisiko masuk ke ranah operasional yang bukan kompetensinya. Sementara itu, masalah lama seperti biaya pendidikan, kesejahteraan dosen, dan fasilitas akademik bisa tetap terabaikan.
Keberhasilan Unhas bisa menjadi inspirasi. Namun sebelum model itu direplikasi ke seluruh Indonesia, pemerintah perlu memastikan bahwa kampus yang terlibat benar-benar siap, dan bahwa pelibatan tersebut memperkuat, bukan menggeser, fungsi utama pendidikan tinggi.
Semoga informasi ini dapat membantu pembaca memahami berbagai sudut pandang dalam wacana dapur MBG di kampus secara lebih utuh dan berimbang.
~nsm
