Pemulihan Pendidikan Pasca Bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar: Dilema Guru, Bencana, dan Trauma

Bencana Sumatera – Kementrian Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melakukan usaha untuk memulihkan proses pendidikan pada 3 daerah terdampak bencana yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Kemendikdasmen melalukan pendaataan sekolah serta pemetaan kebutuhan siswa. Melalui portal resmi Kemendikdasmen, Abdul Mu’ti menyampaikan apabila data telah terkumpul, kemendikdasmen akan menyusun langkah selanjutnya untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan. Anak-anak akan mendapatkan Pendampingan psikososial serta sekolah yang terdampak akan diprioritaskan mendapatkan bantuan revitalisasi satuan pendidikan di tahun depan.
Menjadi sebuah dilema ketika guru sebagai seorang pengajar diharuskan menghadapi situasi pendidikan pasca bencana. Guru diharuskan menjadi pihak pertama yang kembali menghidupkan proses belajar mengajar ditengah tantangan trauma pribadi sebagai korban terdampak bencana dan tuntutan tugas.
UNESCO memberikan gambaran berkenaan dengan kemungkinan kondisi yang dihadapi pasca bencana yang berdampak pada pendidikan sebagai berikut:
- Penutupan institusi pendidikan. Sekolah formal sebagai tempat berlangsungnya proses pendiidkan tidak dapat berjalan dikarenakan bencana yang terjadi. Proses pembelajaran formal yang umumnya dilaksankan menjadi terhenti sehingga peserta didik tidak memperoleh pembelajaran formal dalam rentan waktu tertentu hingga revitalisasi pendidikan dilakukan.
- Keterbatasan sumber daya pembelajaran. Sumber daya pembelajaran yang dimaksud adalah seluruh aspek yang mendukung proses pembelajaran. Dimulai dari tenaga pengajar, sarana dan prasarana, sumber ajar, dan pendukung pembelajaran lainnya.
- Kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang terancam. Situasi pasca bencana merupakan situasi yang tidak ideal. Bahkan kebutuhan pokokpun belum dapat terpenuhi. Dalam situasi krisis ini, hal utama yang harus dipenuhi dan diperjuangkan terlebih dahulu adalah kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan guru dan murid. Dengan demikian, tingkat urgensi dari proses pembelajaran menjadi berubah.
- Dampak Psikologis. Suatu bencana dapat memengaruhi psikologis korban terdampak termasuk guru dan murid. Situasi ini dapat sangat memengaruhi seluruh aspek kehidupan mereka termasuk pendidikan.
- Pendanaan dan perencanaan. Pemerintah akan mengalokasikan dana pada sektor yang paling mendesak untuk kebutuhan kemanusiaan lainnya. Dalam hal ini, perencanaan jangka panjang berkenaan dengan pedidikan pun terhambat dan berpengaruh terhadap kualitas penyediaan pendidikan jangka panjang.
Dalam menghadapi situasi pasca bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar, dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah untuk kembali memulihkan situasi agar proses pembelajaran dapat segera berlangsung. Di sisi lain, NGO, pemerintah dan organisasi lainnya dapat membantu peran guru untuk memulihkan psikologis siswa dan memastikan pembelajaran tetap berlangsung. Selain bantuan materi, bantuan pemulihan psikologis juga sangat dibutuhkan untuk menghilangkan rasa trauma dan mengembalikan rasa aman. Pendidikan pasca bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar harus mampu mewujudkan kegiatan pembelajaran sebagai terapi. Aktivitas seni, bermain, dan diskusi dapat dijadikan sebagai pemulihan mental. Pembelajaran dapat dilakukan di tenda, posko atau ruang darurat lainnya. Sistem shifting atau kelas pengganti dapat diberlakukan untuk mengatasi keterbatasan tempat.
Pendidikan pasca bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar memang menjadi dilema bagi guru, murid, dan seluruh masyarakat. Guru diharuskan menjadi First Responder dalam hal ini. Guru menghadapi tekanan sosial, guru harus kuat padahal ikut terdampak. Di tengah kondisi yang tidak ideal, guru memilki tekanan untuk dapat terus melaksanakan pembelajaran dan sesegera mungkin memulihkan proses pendidikan. Bagi murid, kondisi trauma dan hilangnya rasa aman akan memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan. Murid membutuhkan ruang aman untuk dapat terus bertumbuh. Situasi pasca bencana perlu diusahakan untuk dapat sebisa mungkin mengusahakan ruang aman tsb, salah satunya melalui pendidikan.
Apabila ditinjau secara keseluruhan, hal ini berpengaruh terhadap pendidikan jangka panjang pada daerah yang terdampak. Proses pendidikan yang terhenti sejenak memungkinkan terjadinya ketertinggalan pembelajaran, ritme belajar yang berubah dan kacau, serta menurunnya motivasi belajar siswa. Kondisi yang rumit ini membutuhkan intervensi yang terpadu dari berbagai macam pihak untuk pemulihan berkelanjutan.
Semoga segala upaya yang dihadirkan, sekecil apapun, dapat menuntun kita kepada kebaikan.
-drl
