Panduan Kurikulum Berbasis Cinta
Panduan Kurikulum Berbasis Cinta

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) berusaha menjawab tantangan dunia dan mempersiapkan murid untuk dapat senantiasa menjadi pemimpin yang baik di muka bumi (khalifah fiil ardh). KBC hadir bukan untuk menggantikan kurikulum terkini, KBC hadir sebagai pelengkap untuk menyempurkan dan memberikan ruh Islam sebagai agama yang rahmatan lil aalamin (rahmat bagi seluruh alam). Kurikulum berbasis cinta berusaha menyelesaikan persoalan, bukan hanya persoalan dalam tatanan lokal, namun juga persoalan di tatanan global. Sebelum merencanakan dan mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta pada tahun ajaran baru nanti, seluruh tenaga pendidik wajib memahami konsep dasar yang menjadi poin utama dalam Kurikulum Berbasis Cinta.
Latar Belakang Hadirnya Kurikulum Berbasis Cinta
Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas di tahun 2045, Indonesia perlu menyiapkan SDM yang berkualitas dan unggul. Hal tersebut menjadi salah satu tugas sekolah sebagai institusi pencetak SDM yang berkualitas. Di tengah tugas berat yang diemban oleh pendidikan, Indonesia menghadapi banyak isu, salah atunya adalah isu kemanusiaan. Isu dehumanisasi menjadi isu serius yang dapat menjadi efek domino dan menimbulkan isu lainnya di tengah masyarakat.
Indonesia merupakan negara yang lekat dengan keberagaman. Beragam agamanya, beragam budayanya, beragam sukunya, beragam pula bahasanya. Isu dehumanisasi dan keberagaman yang melekat pada masyarakat Indonesia dapat menjadi pemicu munculnya konflik yang rumit apabila tidak dilakukan tindakan preventif atau pencegahan. Lembaga pendidikan dapat berperan dalam hal ini. Lembaga pendidikan dapat menjadi tempat yang efektif dalam hal internalisasi nilai dan pembentukan karakter sedari dini. Melalui lembaga pendidikan, internalisasi nilai dan proses pembentukan karakter dapat dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan terorganisir dengan baik.
Kurikulum Berbasis Cinta Sebagai Solusi
Usaha untuk menciptakan SDM yang berkualitas dan tindakan pencegahan terhadap isu dehumanisasi memerlukan pendekatan yang menekankan nilai-nilai kemausiaan. Nilai kemanusiaan yang dimkasud ialah nilai empati, nilai toleransi, dan nilai kesetaraan. keseluruhan nilai tersebut pada dasarnya dilandaskan oleh nilai cinta. Kurikulum berbasis cinta menawarkan pendekatan yang damai, harmonis, dan juga berkeadaban. Murid tidak hanya cakap secara kognitif, namun juga berusaha menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai kemanusiaan, nilai spriritualitas, dan kebermanfaatan untuk sesama.
KBC menghadirkan 5 topik utama yang mewakilkan nilai yang hendak diinternalisasikan. Pengelompokan 5 topik utama dilakukan guna mempermudah proses pengintegrasian kurikulum. Berikut merupakan 5 materi pokok KBC:
- Cinta Allah SWT dan Rasul-Nya
- Cinta Ilmu
- Cinta Lingkunga
- Cinta Diri dan Sesama Manusia
- Cinta Tanah Air
Prinsip dan Metode Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta
KBC secara nasional diterapkan pada jenjang RA, MI, MTs, MA dan MAK. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dalam pengambangannya, kurikulum berbasis cinta didasarkan pada beberapa prinsip di antaranya adalah; 1) Pendidikan berbasis nilai, 2) Pengambangan Karakter, 3) keteladanan, 4) Pendekatan Holistik, dan 5) Keterlibatan komunitas. Dalam penerapan dan pegembangannya, tenaga pendidik diharuskan berpatok pada nilai-nilai tersebut agar memiliki jalan yang terarah dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Selain kelima nilai di atas, metode dalam KBC juga menjadi salah satu strategi yang patut diperhatikan secara seksama. Dalam KBC, terdapat 5 metode sebagai berikut; 1) Pembelajaran Berbasisi Pengalaman, 2) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), 3) Pembelajaran yang Keratif dan Inovatif, 4) Dialog dan Komunikasi terbuka, dan 5) Evaluasi Berbasis Proses. Kelima metode tersebut dapat diimplementasikan dengan berdasarkan pada prinsip utama KBC dan juga berpatokan kepada 5 topik utama yang dimiliki oleh KBC.
Penerapan KBC pada dasarnya masih menggunakan kerangka utama yang sama dengan kurikulum sebelumnya dan juga Deep Learning. Hanya saja, KBC menambahkan 5 topik utama yang perlu ditekankan pada setiap pembelajaran. Dengan demikian, dalam setiap pembelajaran tidak hanya dirahkan pada tujuan utama sebagaimana yang tercantum pada kurikulum terdahulu, namun juga disispkan nilai-nilai yang digaungkan oleh KBC. Kunci utama dalam menerapkan KBC adalah memahami konsep KBC dengan baik, melakukan perencanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, dan berusaha sebaik mungkin untuk mengajar dengan hati yang tulus.
Semoga segala upaya yang dihadirkan, sekecil apapun, dapat menuntun kita kepada kebaikan.
-drl
